Sabtu, 22 Februari 2014

Kisah ulama



Seorang Syekh yang alim lagi berjalan-jalan santai bersama
salah seorang di antara murid-muridnya di sebuah taman.
Di tengah-tengah asyik berjalan sambil bercerita, keduanya
melihat sepasang sepatu yang sudah usang lagi lusuh. Mereka
berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang
bertugas di sana, yang sebentar lagi akan segera
menyelesaikan pekerjaannya.
Sang murid melihat kepada syekhnya sambil berujar:
“Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan
menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di
belakang pohon-pohon? Nanti ketika dia datang untuk
memakai sepatunya kembali, ia akan kehilangannya. Kita lihat
bagaimana dia kaget dan cemas!”
Syekh yang alim dan bijak itu menjawab: “Ananda, tidak
pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang
miskin. Kamu kan seorang yang kaya, dan kamu bisa saja
menambah kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang kamu coba
memasukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam
sepatunya, kemudian kamu saksikan bagaimana respon dari
tukang kebun miskin itu”.
Sang murid sangat takjub dengan usulan gurunya. Dia
langsung saja berjalan dan memasukkan beberapa lembar uang
ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi
di balik semak-semak bersama gurunya sambil mengintip apa
yang akan terjadi dengan tukang kebun.
Tidak beberapa lama datanglah pekerja miskin itu sambil
mengibas-ngibaskan kotoran dari pakaiannya. Dia berjalan
menuju tempat sepatunya ia tinggalkan sebelum bekerja.
Ketika ia mulai memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia
menjadi terperanjat, karena ada sesuatu di dalamnya. Saat ia
keluarkan ternyata…....uang.
Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi
uang.
Dia memandangi uang itu berulang-ulang, seolah-olah ia tidak
percaya dengan penglihatannya.
Setelah ia memutar pandangannya ke segala penjuru ia tidak
melihat seorangpun.
Selanjutnya ia memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu ia
berlutut sambil melihat ke langit dan menangis. Dia berteriak
dengan suara tinggi, seolah-olah ia bicara kepada Allah:
“Aku bersyukur kepada-Mu wahai Tuhan. Wahai Yang Maha
Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak-anakku lagi kelaparan.
Mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah
menyelamatkanku, anak-anak dan istriku dari celaka”.
Dia terus menangis dalam waktu cukup lama sambil memandangi
langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari
Allah Yang Maha Pemurah.
Sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat
di balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat ia
bendung.
Ketika itu Syekh yang bijak tersebut memasukkan pelajaran
kepada muridnya:
“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih
dari pada kamu melakukan usulan pertama dengan
menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”
Sang murid menjawab:
“Aku sudah mendapatkan pelajaran yang tidak akan mungkin
aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku baru paham makna
kalimat yang dulu belum aku pahami sepanjang hidupku:
“Ketika kamu memberi kamu akan mendapatkan kebahagiaan
yang lebih banyak dari pada kamu mengambil”.
Sang guru melanjutkan pelajarannya.
Dan sekarang ketahuilah bahwa pemberian itu bermacam-
macam:
- Memaafkan kesalahan orang di saat mampu melakukan balas
dendam adalah suatu pemberian.
- Mendo’akan temanmu di belakangnya (tanpa
sepengatahuannya) itu adalah suatu pemberian.
- Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka
buruk darinya juga suatu pemberian.
- Menahan diri dari membicarakan aib saudaramu di
belakangnya adalah pemberian lagi.
Ini semua adalah pemberian, supaya kesempatan memberi
tidak dimonopoli oleh orang-orang kaya saja.
Jadikanlah semua ini pelajaran, wahai ananda!
By: Zulfi Akmal

Al-Azhar Cairo

Rabu, 19 September 2012

... KAMI RAKYAT KAU WAKIL WAKYAT ...

Bismillah .. kami dan kau tak mungkin duduk sejajar ..
kami berbaju kumal, kau berbaju mahal ..
kami orang kecil, kau pembesar ..
kami terpinggirkan, kau selalu terdepan ..

kami dan kau tak mungkin besanan ..
kami tInggal di gubuk liar, kau di rumah mewah ..
kami makan seadanya, kau makan tak ada habisnya ..
kami kebanjiran, kau tenang-tenang ..

kami dan kau tak mungkin disatukan ..
kami tak masuk hitungan, kau selalu terbilang ..
kami terbuang, kau terpandang ..
kami direndahkan, kau ditinggikan ..

kami dan kau tak bisa sejalan ..
sebab kami hidup oleh kejujuran ..
dan kau oleh kecurangan ..
kami hidup tenang, kau hidup galau penuh risau

Menghitung Asa


Pagi menyeru dan membangunkanku
Udara yang sejuk dan dingin menusuk tulangku
Adzan subuh berkumandang memanggilku untuk pergi ke masjid
Ku berjalan mrnghampirinya

Hati ini berharap agar jiwa tenang
Seperti diamnya daun pada dahannya
Tapi takdir selalu mendahuluinya
Karena kita dimiliki oleh yang menentukan takdir

Hal ini terus berulang, dan berulang
Menyesakkan dada membuat mata ini berkaca-kaca
Tapi air mata ini sudah habis menangisi perkara ini
Dan kucoba untuk bertahan

Peristiwa ini menuntunku untuk senantiasa beristrigfar
Memohon ampun atas segala kesalahanku
 Agar setiap kejadian ini bisa diambil hikmahnya
Pelajaran hari ini senantiasa menumpuk menyisakan PR yang harus diselesaikan

Menghitung asa untuk senantiasa berintropeksi diri
Untuk mengembalikan semua kepada yang dulu

Sabtu, 15 September 2012

Hati yang keras

Harus kuat mengadapi hidup ini
Walau terasa tak kuat maka aku harus menguatkannya
Rasa sayang sudah tak berguna lagi
Yang ada rasa dengki selalu di hatinya
Tak tahu mengapa itu terjadi dalam diriku
Kurasa ini ada ujian untuk diriku

 Kenapa hati itu terlalu keras
Padahal batu saja bisa berlubang
Ya...berlubang dengan tetesan air, setetes demi setetes

Kenapa nasehat ini selalu mentah
Tak tertangkap oleh hatinya
Tak tahu mengapa???
Apakah ada yang salah dalam diriku
Aku  pun tak tahu

Entah bingung selalu menyertaiku
Rasa hampa selalu menemani hatiku
Bosan dan penat menyelimutiku
Ingin ku pergi ke tempat yang sunyi
Dan kukatakan bahwa aku enggan menyapa hati yang keras